12/26/2012

 

"Saijah remuk, dan dia kan sadar, yang tak diam dengannya hanya waktu" (Saijah, diambil dari judul karangan Max Havelar - Saijah dan Adinda)

Dengan langkah yang gagah berani seperti langkah orang yang besar cita-citanya , Saijah masuk ke rumah Adinda , dan kepada Adinda ia menceritakan rencananya.

-"Bayangkan , " katanya , "Jika aku kembali , kita sudah cukup umur untuk kawin , dan kita akan memiliki dua ekor kerbau ! "
-"Baik sekali , Saijah . Aku ingin kawin dengan kau jika kau telah kembali . Aku akan memintal , dan menenun sarung dan selendang , dan aku akan membatik , dan bekerja rajin sekali selama itu . "
-" O , aku percaya Adinda , tapi ... bagaimana jika aku kembali dan kau telah kawin ? "
-" Saijah , kau tahu bahwa aku tidak akan kawin dengan orang lain ; ayahku telah berjanji dengan ayahmu mengenai diriku . Dan kau sendiri . ? "
-" Aku akan kawin dengan kau , percayalah , bila aku pulang , aku akan berseru dari jauh . "
-" Siapa akan mendengarmu jika kami sedang menumbuk padi di desa ? "
-" Benar juga , ... tapi Adinda , ... O ya , aku mendapat pikiran yang lebih baik , ... tunggulah aku di hutan jati , di bawah ketapang di mana kau memberiku kembang melati . "
-" Tapi , Saijah , bagaimana aku tahu bila aku harus pergi menunggumu di bawah ketapang ? "
Saijah berfikir sejenak , lalu berkata :
-" Hitunglah jumlah bulan , aku akan pergi tiga kali dua belas bulan , ... bulan ini tidak terhitung ; ... lihat , Adinda , buatlah garis pada lesungmu pada tiap bulan baru . Sesudah cukup tiga kali dua belas garis , sehari sesudah itu aku akan datang dibawah ketapang ; ... berjanjilah bahwa kau akan menungguku disana . "


Saijah dan Adinda , 279-280 , XVII , Max Havelaar -
Multatuli , 1972 


Memaknai suatu lagu tidak perlu selusin kalimat tak arti, lebih indah secuil kata beribu makna :)

No comments:

Post a Comment